Sunday, February 9, 2014

Liputan6.com, Jakarta : Pemilu 2014 diprediksi akan banyak diguncang permasalahan. Bahkan diprediksi akan terjadi permasalahan-permasalahan pokok yang berpotensi terjadi. Maka itu, ada beberapa persoalan yang perlu diwaspadai.

"Yang disosialisasikan caleg bukan ideologi dan program kerja," kata Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens usai diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (9/2/2014).
Permasalahan sosialisasi calon legislatif dinilai masih sangat tidak optimal. Alasannya, dalam soasialisasi hanya melihatkan siapa calonnya, bukan dari program kerja yang akan dikerjakan caleg itu.
Selain itu, kata Boni, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dinilai masih belum menjalankan tanggung jawabnya dalam pengamanan data pemilu. Misalnya, kerja sama KPU dengan Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) akhirnya batal. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pun demikian.
"Bawaslu, tidak bisa diharapkan netral sepenuhnya dalam mengawasi pelaksanaan pemilu," ucapnya.
Boni melanjutkan, persoalan daftar pemilih tetap (DPT) sampai saat ini belum tuntas diselesaikan KPU. Terkait dengan hal itu, menurut Boni, ada kecurigaan munculnya kartu pemilih ilegal yang bermaksud menggelembungkan suara partai atau calon tertentu.
"DPT juga belum tuntas. Potensinya suara ilegal akan muncul," lanjut Boni.
Pria yang pernah berseteru dengan Juru bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul ini menilai ada persoalan baru, yakni masalah dana saksi parpol. Kementerian Negeri dianggap memunculkan kebijakan tersebut secara mendadak.
Terakhir, kata Boni, money politics atau politik uang dalam bentuk langsung maupun tidak, masih diprediksi akan menjadi sandungan dalam gelaran pemilu 2014. (Ism)
Liputan6.com, Jakarta : 'Ratu Mariyuana' Schapelle Leigh Corby mendapatkan pembebasan bersyarat. Corby menjadi salah satu dari 1.291 narapidana yang mendapatkan hak tersebut. Aktivis Gerakan Indonesia Bangkit, Adhie Massardi mendesak DPR menggunakan hak interpelasi meminta Badan Narkotika Nasional (BNN) turun tangan.

"DPR harus gunakan hak interpelasi, minta informasi dari BNN. Kalau dibiarkan hanya politik maka pemberantasan narkoba akan guncang," kata Adhie Massardi di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (9/2/2014).
Dengan data-data yang dimiliki, kata Adhie, BNN bisa menahan kembali Schapelle Leigh Corby. "Begitu Corby dilepas, BNN bisa tangkap lagi. BNN yang punya kompetensi. Saya sarankan kepada BNN jangan takut," jelas Adhie.
Maka itu, lanjut dia, BNN sebaiknya tetap fokus dan tidak takut terhadap dugaan adanya intervensi. Mantan juru bicara Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid ini menilai, jika interpelasi tidak dilakukan maka patut adanya kecurigaan.
"Kalau DPR tidak mau interpelasi patut diduga mafia narkoba juga sudah bekerja. Ini persoalan jelas. Ini kejahatan luar biasa. Kasih grasi dan keistimewaan. Interpelasi bisa jelaskan rumor bargaining. Jangan juga masyarakat menduga-duga pemimpin nasional," tegas dia.
Wanita asal Gold Coast, Queensland, Australia ini divonis bersalah 20 tahun penjara pada 2004 setelah terbukti menyelundupkan 4,2 kilogram mariyuana atau ganja di Bali. Corby kemudian mendapat sejumlah remisi dan grasi 5 tahun dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (Ism/Eks)

Liputan6.com, Jakarta : Hari Pers Nasional yang diperingati setiap tanggal 9 Ferbruari mengandung makna tersendiri bagi mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Pramono Edhie Wibowo. Karena itu, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi pameran foto yang diselenggarakan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jakarta dalam perayaan hari pers nasional 2014 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Pramono yang juga merupakan peserta Konvensi Capres Partai Demokrat ini menjelaskan, pers adalah profesi terhormat yang dekat dengan masyarakat. Karena itu ia berharap, agar pers dapat terus menjalankan fungsinya sebagai agen publik untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat dan menjelaskan fungsi kritiknya terhadap pemerintah.
"Pers selayaknya dapat terus menjalankan fungsi sebagai agen publik yang bisa menginformasikan kepada masyarakat sehubungan dengan perkembangan dan permasalahan pembangunan, menjalankan fungsi kritik terhadap pemerintah, perkembangan dunia dan sekaligus menyampaikan aspirasi rakyat," ungkap Pramono dalam keterangan tertulis kepada Liputan6.com di Jakarta, Minggu (9/2/2014).
Karena itu, Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini menegaskan, seiring keikutsertaannya sebagai kandidat capres Partai Demokrat, maka ia berjanji untuk terus mengawal kebebasan pers sesuai dengan aturan yang berlaku jika dirinya diberikan mandat oleh rakyat untuk memimpin Indonesia dalam periode berikutnya.
"Saya akan terus mengawal kebebasan pers yang sesuai dengan demokrasi ‎Pancasila yang kita anut. Mari bersama kita lanjutkan pembangunan Indonesia dengan menyampaikan pemberitaan objektif dan berimbang," tukas adik ipar Presiden SBY ini. (Adm)
Liputan6.com, Jakarta : Tingkat kepuasan warga DKI Jakarta terhadap kinerja Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dalam mengatasi masalah kemacetan di Ibukota merosot tajam. Padahal selama ini, dalam janji kampanyenya, pria yang akrab disapa Jokowi itu mengaku mampu mengatasi kemacetan dalam waktu 1 tahun masa pemerintahannya.

Dalam survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Nasional (LSN), merosotnya kepuasan warga Jakarta terhadap penanganan kemacetan ditunjukkan dalam rentang waktu Oktober 2013 hingga Januari 2014.
"Dalam survei bulan oktober 2013 lalu sebanyak 52,7% masih mengaku puas, tapi kali ini tinggal 34,6% yang menyatakan puas terhadap upaya Jokowi mengatasi kemacetan lalu lintas," ujar Peneliti Utama LSN Dipa Pradipta dalam jumpa persnya di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu, (9/2/2014).
Menurut Dipa, mayoritas masyarakat DKI sudah mulai pesimis terhadap kemampuan Jokowi dalam mencari solusi kemacetan lalu lintas ibukota. Pasalnya, selama hampir 16 bulan memimpin Jakarta, program Jokowi dalam mengurai kemacetan belum terlihat.
"Jakarta masih macet, apa yang Jokowi janjikan seperti ERP, ganjil-genap sampai saat ini tidak terealisasi. Angkutan umum yang memadai, murah dan nyaman sampai saat ini belum terlihat. Yang ada Jakarta justru makin macet," cetusnya.
"Optimisme publik terhadap kapabilitas Jokowi terus merosot karena tidak banyak bukti riil yang dirasakan masyarakat Jakarta," tambahnya.
Ganjal Pencapresan
Melihat fakta tersebut, Dipa menilai merosotnya tingkat kepuasan warga Jakarta terhadap Jokowi merupakan sesuatu yang wajar. Pasalnya, dipilihnya Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta lalu, karena masyarakat Jakarta sangat menaruh harapan besar kepada mereka untuk mewujudkan ibu kota yang terbebas dari banjir dan macet.
"Tapi sampai saat ini, harapan warga Jakarta belum tercapai. Wajar publik Jakarta pesimis dengan kinerja Jokowi dalam mengatasi macet," ungkapnya.
Menguatnya pesimisme terhadap kinerja Jokowi ini, menurut Dipa, berdampak pada tingkat dukungan publik terhadap wacana pencapresan Jokowi yang saat ini banyak diunggulkan oleh berbagai lembaga survei lainnya.
"Mayoritas publik DKI atau 71,2% kurang setuju Jokowi naik ketingkatan lebih tinggi menjadi capres, dan hanya 27,5% saja yang menyatakan setuju dengan Jokowi diusung sebagai capres 2014," ujarnya.
Survei yang dilakukan oleh LSN ini dilakukan dalam rentang waktu 10 hingga 26 Januari 2014 dan dilaksanakan di lima wilayah kota kabupaten di DKI Jakarta dengan jumlah 790 responden. Proses pengambilan data dilakukan dengan teknik pengambilan sampel secara berjenjang dengan tingkat margin error sebesar 3,5%.
Untuk pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara tatap muka dengan responden dengan berpedoman kuesioner. (Adm/Riz)
Riset terbaru menyebut, bahwa aktivitas ringan bermanfaat untuk kesehatan.
Berdasarkan hasil sebuah penelitian Universitas Bellarmine di Amerika Serikat, orang yang menghabiskan lebih banyak waktu dengan bergerak dibanding yang duduk sepanjang hari umumnya punya insulin dan trigliserida (lemak dalam darah) baik, bahkan jika tak melakukan olahraga yang sesuai acuan nasional.
Penemuan ini menunjukkan pentingnya meminimalkan kurang gerak dan melakukan aktivitas ringan secara intensif. Misalnya melangkah maju-mundur saat sedang menelepon, berdiri di meja secara berkala atau sesekali berjalan saat rapat daripada duduk.
Paul Loprinzi, asisten profesor di Universitas Bellarmine, Kamis (23/1) mengatakan kepada Live Science, meski aktivitas ringan tak sebesar manfaat olahraga bertenaga, masih jauh lebih baik daripada bermalas-malasan dan menonton televisi.
Pusat Pencegahan dan Pengawasan Penyakit merekomendasikan orang dewasa melakukan sedikitnya 150 menit aerobik ringan tiap minggu atau 75 menit aktivitas bertenaga seperti berlari atau berenang.
Penelitian menemukan, terlalu banyak duduk meningkatkan risiko penyakit kronis, seperti gangguan jantung, diabetes tipe 2, kanker payudara, dan kanker usus.
(Sumber: Kompas)
Kini bahkan perokok bisa dijuluki pemalas karena sebuah studi menemukan, perokok cenderung lebih malas dibandingkan orang yang tidak merokok.
Menurut peneliti studi asal Brasil, perokok lebih sedikit melakukan aktivitas fisik dan cenderung kurang motivasi. Mereka juga menemukan, perokok lebih mungkin untuk mengalami gejala cemas dan depresi.
Peneliti asal State University of Londrina, Brasil, mengatakan, studi ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa perokok lebih kurang aktif bergerak dibandingkan orang yang tidak merokok. Mereka mempelajari 60 perokok dan 50 orang yang tidak merokok. Peneliti meminta peserta untuk menggunakan pedometer, alat untuk mengukur aktivitas fisik, selama 12 jam untuk total enam hari.
Hasil studi mengungkap, perokok setiap harinya berjalan lebih sedikit. Selain itu mereka juga mengalami penurunan fungsi paru, sehingga mereka juga lebih sulit untuk berolahraga.
Ketika mereka diminta untuk menilai kualitas kehidupan yang berhubungan dengan kesehatan, perokok melaporkan mereka lebih mudah lelah dan kurang termotivasi untuk mengubah gaya hidup.
"Setahu kami, ini adalah studi pertama yang menunjukkan secara obyektif bahwa ada pengurangan aktivitas fisik seorang perokok dibandingkan dengan orang yang tidak merokok," papar ketua studi Karina Furlanetto.
Furlanetto mengatakan, di samping menurunnya fungsi paru-paru, kapasitas olahraga, dan kualitas hidup, perokok juga lebih mungkin mengalami gejala cemas dan depresi, serta berjalan lebih sedikit daripada orang yang tidak merokok di kehidupan sehari-hari.
Sebelumnya, studi lain pernah menunjukkan bahwa perokok tidur lebih sedikit dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Para peneliti asal Charite Berlin Medical School di Jerman tersebut menemukan, 17 persen perokok tidur kurang dari enam jam sehari, dan 28 persennya mengatakan mengalami gangguan tidur.
Sebagai perbandingan, hanya delapan persen orang yang tidak merokok yang tidur kurang dari enam jam, dan hanya 19 persen yang melaporkan mengalami gangguan tidur.
(Unoviana Kartika. Sumber: KOMPAS.com)
Mungkin Anda telah mencuci tangan, menghindari kontak dengan orang sakit, tetapi kenapa Anda masih juga terkena flu? Jawabannya, karena sistem imun sedang melemah. Untuk itu, Anda perlu mengetahui lebih dalam lagi hal-hal yang melemahkan sistem imun, serta cara untuk menghindarinya berikut ini.

1. Kontaminasi udara
Udara di sekitar Anda tidak hanya memengaruhi kesehatan paru-paru, tetapi juga imunitas. Penelitian menunjukkan, udara yang terkontaminasi menekan kinerja sel T yang merupakan komponen sistem imun paling penting. Menurut Frances Goulart, penulis buku Super Immunity Foods, memasang pemurni udara di rumah dapat membantu menjadikan udara terbebas dari mikroba penyebab penyakit, paling tidak di dalam ruangan.

2. Duduk sepanjang hari
Kegiatan ini akan memperlambat laju metabolisme yang menyebabkan tubuh menyerap nutrisi lebih lambat pula. Padahal, kata Joel Fuhrman, penulis buku Super Immunity, nutrisi sangat dibutuhkan oleh sistem imun untuk bekerja lebih optimal. Karena itu, pastikan setiap jam Anda bangkit untuk berdiri dari duduk, paling tidak selama lima menit. Tujuannya adalah untuk meningkatkan laju metabolisme Anda.

3. Salah pilih produk kecantikan
Produk-produk kecantikan ada pula yang mengandung bahan artifisial bersifat toksik. Pemakaian berbagai produk ini akan menurunkan fungsi sistem imun. Oleh karena itu, Goulart menyarankan supaya Anda lebih selektif dalam memilih produk yang Anda gunakan. "Pilihlah yang alami karena lebih aman," ujarnya.

4. Terlalu banyak makan junk food
Tepung pada junk food biasanya akan mengganggu kerja sel T dan sel B yang merupakan komponen sistem imun pelawan penyakit. Maka sebaiknya, pilihlah tepung yang terbuat dari gandum utuh yang lebih bersahabat dengan sistem imun.

5. Kurang tidur
Saat kurang tidur, maka sistem imun akan bekerja dengan kurang efektif. Pasalnya, tubuh akan memproduksi lebih sedikit melatonin yang memperbaiki kerja sistem imun. Oleh karenanya, pastikan untuk tidur paling tidak tujuh hingga delapan jam sehari.

6. Terlalu banyak makan protein
Protein berlebihan, terutama yang berasal dari hewan, menyebabkan tubuh memproduksi lebih banyak hormon IGF1 yang diketahui mempercepat penuaan dan mengganggu kerja sistem imun. Menurut Fuhrman, sebaiknya asupan protein hewani dalam diet tidak lebih dari 10 persen dari total kalori setiap harinya.

7. Menyendiri
Orang yang kesepian cenderung lebih mudah stres sehingga dampaknya pun terasa pada sistem imun. Menurut Sheldon Cohen, psikolog di Carnegie Mellon University, penting hukumnya untuk menjadwalkan waktu berkualitas dengan teman, rekan, bahkan tetangga guna memperkuat sistem imun.

8. Kecanduan kafein
Minuman berkafein seperti kopi atau teh memang dapat memberikan rasa awas sehingga tidak jarang orang bergantung padanya ketika tengah merasa mengantuk atau tidak bersemangat. Namun, ketika sudah dalam tingkat kecanduan, kafein akan berdampak buruk pada sistem imun. Maka batasilah konsumsi kafein, empat cangkir sehari adalah jumlah yang paling optimal.
(Unoviana Kartika, Sumber: kompas.com)