Liputan6.com, Jakarta : Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Jakarta dinilai terlambat. Sehingga hujan lebat tetap saja turun di Ibukota. Banjir di sejumlah titik Jakarta tidak terhindarkan lagi.
Jokowi mengakui Pemprov DKI Jakarta memang belum melakukan modifikasi cuaca. Operasi yang dilakukan selama ini menggunakan biaya dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Rekayasan cuaca itu yang kerjakan BNPB pusat. Kita minta persuratnya lewat kita. Sementara anggaran pusat. APBD sama sekali belum dipakai. Biaya ada di BNPB pusat," tutur Jokowi saat meninjau banjir di Mal Citraland, Jakarta Barat, Minggu (19/1/2014).
Menurut Gubernur bernama lengkap Joko Widodo itu, Pemprov DKI belum melakukan modifikasi cuaca karena terkendala anggaran. APBD DKI untuk tahun 2014 belum disahkan oleh DPRD.
"Belum digunakan. Problem kita, (anggaran) belum bisa dipakai karena kalau mau pakai nunggu DKI, yang di DKI juga belum digedok," tambah Jokowi.
Kepala Unit Teknis Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Heru Widodo mengatakan, rapat soal rekayasa cuaca sebenarnya sudah dilakukan pada awal November 2013. Dalam rapat itu dibahas prediksi perubahan iklim dan hujan lebat di Jakarta.
BPPT juga sudah mengirim surat ke Jokowi untuk melakukan rekayasa cuaca pada 1 Desember. Namun, pelaksanaan rekayasa cuaca itu mundur.
Bahkan, tambah Heru, surat perintah keadaan darurat dari Jokowi baru keluar pada Senin 13 Januari. Sehingga TMC sudah terlambat untuk mencegah hujan lebat di Jakarta. "Jadi surat perintah keadaan darurat dari Jokowi telat," ujar Heru.
Sunday, January 19, 2014
Liputan6.com, Jakarta : Orang dewasa di Indonesia mengatakan bahwa kesehatannya kini tak sebaik 5 tahun lalu. Setidaknya hasil temuan AIA Healthy Living Index 2013 menyebutkan demikian.
"Dari hasil penemuan itu didapatkan hasil bahwa 71 persen orang dewasa di Indonesia merasa kesehatannya tak sebaik kurun waktu lima tahun lalu," kata Consultant Intuit Research AIA Healthy Living, Thomas Isaac.
Demikian disampaikan Thomas Isaac dalam acara Press Conference 'AIA Healthy Living Index Survey 2013', di XXI Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (18/12/2013).
Lebih lanjut Thomas mengatakan, berbagai ancaman datang dari lingkungan yang membuat masyarakatnya enggan untuk melakukan aktivitas, yang membuat tubuhnya bugar. Di antaranya adalah sosial media, polusi, obesitas, dan perhatian keamanan pada makanan.
"Sebanyak 26 persen orang dewasa di Indonesia mengakui seringkali meluangkan waktu untuk online di sosial media, dan membuatnya candu," kata Thomas menambahkan.
Ancaman seperti ini pun menurut Thomas tidak hanya dirasakan orang dewasa, bahkan penduduk berusia muda mengeluhkan kesehatannya.
"Bahkan 58 persen dari penduduk usia lebih muda < 30 tahun, yang seharusnya dalam usia itu mereka prima, merasa kesehatan mereka menurun," kata Thomas menjelaskan.
"Dari hasil penemuan itu didapatkan hasil bahwa 71 persen orang dewasa di Indonesia merasa kesehatannya tak sebaik kurun waktu lima tahun lalu," kata Consultant Intuit Research AIA Healthy Living, Thomas Isaac.
Demikian disampaikan Thomas Isaac dalam acara Press Conference 'AIA Healthy Living Index Survey 2013', di XXI Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (18/12/2013).
Lebih lanjut Thomas mengatakan, berbagai ancaman datang dari lingkungan yang membuat masyarakatnya enggan untuk melakukan aktivitas, yang membuat tubuhnya bugar. Di antaranya adalah sosial media, polusi, obesitas, dan perhatian keamanan pada makanan.
"Sebanyak 26 persen orang dewasa di Indonesia mengakui seringkali meluangkan waktu untuk online di sosial media, dan membuatnya candu," kata Thomas menambahkan.
Ancaman seperti ini pun menurut Thomas tidak hanya dirasakan orang dewasa, bahkan penduduk berusia muda mengeluhkan kesehatannya.
"Bahkan 58 persen dari penduduk usia lebih muda < 30 tahun, yang seharusnya dalam usia itu mereka prima, merasa kesehatan mereka menurun," kata Thomas menjelaskan.
BUKIT JALIL, KOMPAS.com - Ganda campuran Xu Chen/Ma Jin mempersempahkan gelar ketiga bagi China pada Malaysia Open Superseries Premier 2014. Di final, mereka menumbangkan sang juara bertahan asal Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, 21-11, 17-21, 21-13, Minggu (19/01/2014).
Dua ganda papan atas dunia ini punya sejarah pertemuan yang sangat ketat. Sebelum laga ini, mereka sudah berhadapan 10 kali dengan rekor pertemuan 5-5.
Awal laga kali ini berlangsung ketat. Saling kejar poin berlangsung hingga 3-3. Xu/Ma melejit dan menguasai gim pertama dengan kemenangan cukup telak.
Nielsen/Pedersen memegang kendali pada gim kedua. Mereka unggul di awal dan tak pernah tersentuh hingga gim berakhir.
Ganda China berbalik mendominasi pada gim ketiga atau penentuan. Mereka memimpin sejak awal dan seberapa pun usaha Nielsen/Pedersen, tetap tak cukup untuk mengejar perolehan poin ganda nomor empat dunia tersebut.
Xu/Ma mempersempahkan gelar ketiga untuk China di turnamen Malaysia Open 2014.
Hasil Sementara Final Malaysia Open 2014:
Tunggal Putri: Li Xuerui (China/1) vs Wang Shixian (China/1) 21-16, 21-17
Ganda Putri: Bao Yixin/Tang Jinhua (China/5) vs Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang/3) 21-19, 14-21, 21-13
Ganda Putra: Goh V Shem/Lim Khim Wah (Malaysia) vs Chai Biao/Hong Wei (China) 21-19, 21-18
Ganda Campuran: Xu Chen/Ma Jin (China/4) vs Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark/3) 21-11, 17-21, 21-13
Dua ganda papan atas dunia ini punya sejarah pertemuan yang sangat ketat. Sebelum laga ini, mereka sudah berhadapan 10 kali dengan rekor pertemuan 5-5.
Awal laga kali ini berlangsung ketat. Saling kejar poin berlangsung hingga 3-3. Xu/Ma melejit dan menguasai gim pertama dengan kemenangan cukup telak.
Nielsen/Pedersen memegang kendali pada gim kedua. Mereka unggul di awal dan tak pernah tersentuh hingga gim berakhir.
Ganda China berbalik mendominasi pada gim ketiga atau penentuan. Mereka memimpin sejak awal dan seberapa pun usaha Nielsen/Pedersen, tetap tak cukup untuk mengejar perolehan poin ganda nomor empat dunia tersebut.
Xu/Ma mempersempahkan gelar ketiga untuk China di turnamen Malaysia Open 2014.
Hasil Sementara Final Malaysia Open 2014:
Tunggal Putri: Li Xuerui (China/1) vs Wang Shixian (China/1) 21-16, 21-17
Ganda Putri: Bao Yixin/Tang Jinhua (China/5) vs Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi (Jepang/3) 21-19, 14-21, 21-13
Ganda Putra: Goh V Shem/Lim Khim Wah (Malaysia) vs Chai Biao/Hong Wei (China) 21-19, 21-18
Ganda Campuran: Xu Chen/Ma Jin (China/4) vs Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark/3) 21-11, 17-21, 21-13
Liputan6.com, Jakarta : Pelayanan sanitasi yang kurang menghambat potensi pertumbuhan Indonesia. Kerugian ekonomi yang diderita oleh Indonesia terkait dengan kesehatan dan lingkungan akibat layanan sanitasi yang kurang memadai mencapai 2,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik selama beberapa tahun belakang ini belum diimbangi dengan peningkatan pelayanan sanitasi hanya 5% kotoran dan hanya 1% air limbah yang dihasilkan masyarakat dikumpulkan dan diolah dengan benar.
Hal tersebut menyebabkan kekhawatiran dampak kesehatan dan lingkungan. Sementara itu, sekitar 14% penduduk perkotaan masih melakukan praktek buang air besar sembarangan (open defectation).
"Hampir separuh penduduk Indonesia tinggal di daerah perkotaan dan semakin banyak penduduk yang akan pindah ke daerah perkotaan pada masa mendatang. Pelayanan manajemen air limbah dan lumpur tinja yang lebih baik sangat diperlukan, terutama untuk rakyat miskin," ujar Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chavez ketika ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (30/10/2013).
Menurut Rodrigo, Indonesia akan menerima manfaat dari solusi transformatif yang melibatkan sektor publik dan swasta, juga dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan budaya hidup bersih dan sehat yang lebih baik.
Sejak tahun 2000, pemerintah Indonesia sudah menjalankan beragam reformasi untuk sektor air bersih dan sanitasi yang telah membuahkan hasil. Contohnya, Program Pengembangan Sanitasi Perkotaan (PPSP) yang telah membantu ratusan pemerintah daerah dalam mempersiapkan strategi sanitasi kota.
Komitmen pemerintah untuk meningkatkan pelayanan juga tercermin dari kenaikan pendanaan untuk pelayanan sanitasi yang cukup signifikan. Peningkatan tersebut membantu mendanai pembangunan 1.700 sistem air limbah berbasis masyarakat (SANIMAS) dan berbagai rencana untuk mengembangkan lebih banyak lagi sistem semacam ini.
Pemerintah juga tengah merencanakan pembangunan sistem jaringan pipa air limbah dan pengolahan secara terpusat (sewerage) di kota-kota besar yang akan membantu memperluas layanan sanitasi yang aman dan ramah lingkungan.
Selain itu, Kepala Praktisi Sektor Air Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik, Sudipto Sarkar mengatakan, pelayanan sanitasi perkotaan yang berkualitas akan mendukung pertumbuhan ekonomi perkotaan, mengurangi resiko kesehatan dan melindungi lingkungan.
"Diperlukan upaya-upaya komprehensif dan tepat guna untuk memperbaiki sanitasi, demi mencapai kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat," ujar Sudipto.
Kajian sanitasi perkotaan Indonesia merupakan bagian dari Kajian Sanitasi Perkotaan Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik. Kajian ini difokuskan di tiga negara berkembang dengan pendapatan menengah yaitu Indonesia, Filiphina dan Vietnam.
Hasil kajian di tingkat regional dan negara ini diharapkan dapat membantu penyusunan kerangka kerja untuk perbaikan sektor sanitasi.
Sumber: Liputan6.com
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik selama beberapa tahun belakang ini belum diimbangi dengan peningkatan pelayanan sanitasi hanya 5% kotoran dan hanya 1% air limbah yang dihasilkan masyarakat dikumpulkan dan diolah dengan benar.
Hal tersebut menyebabkan kekhawatiran dampak kesehatan dan lingkungan. Sementara itu, sekitar 14% penduduk perkotaan masih melakukan praktek buang air besar sembarangan (open defectation).
"Hampir separuh penduduk Indonesia tinggal di daerah perkotaan dan semakin banyak penduduk yang akan pindah ke daerah perkotaan pada masa mendatang. Pelayanan manajemen air limbah dan lumpur tinja yang lebih baik sangat diperlukan, terutama untuk rakyat miskin," ujar Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chavez ketika ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (30/10/2013).
Menurut Rodrigo, Indonesia akan menerima manfaat dari solusi transformatif yang melibatkan sektor publik dan swasta, juga dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan budaya hidup bersih dan sehat yang lebih baik.
Sejak tahun 2000, pemerintah Indonesia sudah menjalankan beragam reformasi untuk sektor air bersih dan sanitasi yang telah membuahkan hasil. Contohnya, Program Pengembangan Sanitasi Perkotaan (PPSP) yang telah membantu ratusan pemerintah daerah dalam mempersiapkan strategi sanitasi kota.
Komitmen pemerintah untuk meningkatkan pelayanan juga tercermin dari kenaikan pendanaan untuk pelayanan sanitasi yang cukup signifikan. Peningkatan tersebut membantu mendanai pembangunan 1.700 sistem air limbah berbasis masyarakat (SANIMAS) dan berbagai rencana untuk mengembangkan lebih banyak lagi sistem semacam ini.
Pemerintah juga tengah merencanakan pembangunan sistem jaringan pipa air limbah dan pengolahan secara terpusat (sewerage) di kota-kota besar yang akan membantu memperluas layanan sanitasi yang aman dan ramah lingkungan.
Selain itu, Kepala Praktisi Sektor Air Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik, Sudipto Sarkar mengatakan, pelayanan sanitasi perkotaan yang berkualitas akan mendukung pertumbuhan ekonomi perkotaan, mengurangi resiko kesehatan dan melindungi lingkungan.
"Diperlukan upaya-upaya komprehensif dan tepat guna untuk memperbaiki sanitasi, demi mencapai kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat," ujar Sudipto.
Kajian sanitasi perkotaan Indonesia merupakan bagian dari Kajian Sanitasi Perkotaan Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik. Kajian ini difokuskan di tiga negara berkembang dengan pendapatan menengah yaitu Indonesia, Filiphina dan Vietnam.
Hasil kajian di tingkat regional dan negara ini diharapkan dapat membantu penyusunan kerangka kerja untuk perbaikan sektor sanitasi.
Sumber: Liputan6.com
Citizen6, Ruteng: Pendidikan adalah tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Semakin berkualitas pendidikan yang diberikan kepada penduduknya maka semakin maju pula negara tersebut.
Pemerataan pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya tercapai. Banyak fasilitas pendidikan masih terpusat di kota-kota besar, sedangkan untuk daerah pelosok masih termarginalkan. Hal ini sangatlah disayangkan, karena seharusnya fasilitas pendidikan di desa sama dengan yang ada dikota-kota besar.
Akibat dari fasilitas pendidikan yang belum merata tersebut, menjadikan ketimpangan kualitas sumber daya manusia antara di daerah dan di kota. Inilah yang menjadikan Indonesia tertinggal dari negara lainnya. Hal ini tidak bisa diabaikan, karena pemerataan pendidikan memegang peran penting untuk meningkatkan perekonomian Indonesia ke depan.
Pemerintah, swasta, NGO, dan berbagai element wajib bersama-sama berperan dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Wujud nyata itu harus di jalankan dalam bentuk tindakan bukan hanya sekedar ucapan atau janji-janji belaka.
Dalam mewujukan aksi nyata ini lahirlah program adik asuh. Program adik asuh ini sudah di jalankan di beberapa kota, di antaranya di Cililin Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Agar gerakan kami meluas dan bisa dirasakan oleh anak-anak di Indonesia, Ayo Berbuat Baik! Bersama para Sahabat dari Sedekahpendidikan.org dan SM3T – Angkatan II (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Tertinggal & Terluar) Menyalurkan bantuan berupa paket alat sekolah untuk anak-anak di pedalaman Nusa Tenggara Timur. Bantuan ini bertujuan untuk memberikan semangat kepada anak-anak agar semakin giat dalam belajar.
Alat alat sekolah, alat tulis, sepatu, tas serta seragam, bagi masyarakat kota, mungkin bukan sesuatu yang berarti. Akan tetapi bagi siswa di pelosok NTT ini sangat dinantikan. Karena sehari-hari mereka pergi ke sekolah dengan seragam yang lusuh, kantong kresek, dan tanpa alas kaki. Bantuan yang akan diberikan berupa perlengkapan sekolah yang terdiri dari sepatu, tas, seragam sekolah, dan alat tulis sebanyak 58 paket, yang akan langsung didistribusikan untuk siswa SDI Lokom di Kampung Lokom, Desa Terong, Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Sumber: Liputan6.com
Pemerataan pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya tercapai. Banyak fasilitas pendidikan masih terpusat di kota-kota besar, sedangkan untuk daerah pelosok masih termarginalkan. Hal ini sangatlah disayangkan, karena seharusnya fasilitas pendidikan di desa sama dengan yang ada dikota-kota besar.
Akibat dari fasilitas pendidikan yang belum merata tersebut, menjadikan ketimpangan kualitas sumber daya manusia antara di daerah dan di kota. Inilah yang menjadikan Indonesia tertinggal dari negara lainnya. Hal ini tidak bisa diabaikan, karena pemerataan pendidikan memegang peran penting untuk meningkatkan perekonomian Indonesia ke depan.
Pemerintah, swasta, NGO, dan berbagai element wajib bersama-sama berperan dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Wujud nyata itu harus di jalankan dalam bentuk tindakan bukan hanya sekedar ucapan atau janji-janji belaka.
Dalam mewujukan aksi nyata ini lahirlah program adik asuh. Program adik asuh ini sudah di jalankan di beberapa kota, di antaranya di Cililin Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Agar gerakan kami meluas dan bisa dirasakan oleh anak-anak di Indonesia, Ayo Berbuat Baik! Bersama para Sahabat dari Sedekahpendidikan.org dan SM3T – Angkatan II (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Tertinggal & Terluar) Menyalurkan bantuan berupa paket alat sekolah untuk anak-anak di pedalaman Nusa Tenggara Timur. Bantuan ini bertujuan untuk memberikan semangat kepada anak-anak agar semakin giat dalam belajar.
Alat alat sekolah, alat tulis, sepatu, tas serta seragam, bagi masyarakat kota, mungkin bukan sesuatu yang berarti. Akan tetapi bagi siswa di pelosok NTT ini sangat dinantikan. Karena sehari-hari mereka pergi ke sekolah dengan seragam yang lusuh, kantong kresek, dan tanpa alas kaki. Bantuan yang akan diberikan berupa perlengkapan sekolah yang terdiri dari sepatu, tas, seragam sekolah, dan alat tulis sebanyak 58 paket, yang akan langsung didistribusikan untuk siswa SDI Lokom di Kampung Lokom, Desa Terong, Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Sumber: Liputan6.com
Subscribe to:
Posts (Atom)